Dulu Saya Malu Beragama Islam

0
2832

Ada fase dimana saya malu sama agama saya, Islam. Artinya ada beberapa hal di dalam Islam yang tidak saya sukai dan menimbulkan rasa malu saya.

Katanya Islam agama sempurna, tapi kok seperti ini sih? Ada hal-hal yang masih ‘cacat’ sehingga Islam menjadi tampak tak sempurna di mata saya.

Misalnya…Islam agama kasih sayang, tapi kok ada perbudakan di Islam? Katanya menjunjung tinggi martabat wanita, tapi kenapa membolehkan ta’addud/poligami, bukannya wanita justru tersakiti karenanya?

Lalu, soal hukum potong tangan bagi pencuri, hukum rajam bagi pezina, bagi saya waktu itu kejam sekali. Dan…banyak lagi yang lain.

Rasa malu itu berakibat buruk sekali karena mengikis rasa bangga terhadap Islam. Dulu saya lebih suka pakai kaos kalau shalat Jum’at biar tidak kelihatan ‘Islam banget’. Shalat pun memilih di rumah karena malu diketahui orang berjamaah di masjid atau musola.

Yang paling parah ketika sampai tahap rasa cinta saya pada Islam begitu tipis.

Saya meninggalkan shalat, pun di bulan ramadan. Jangan tanya puasa ramadan saya, jelas bolong-bolong.

Saya juga jadi tidak suka dengan orang-orang agamis termasuk kyai dan ustadznya. Bagi saya mereka itu sok suci, sok alim, sok benar sendiri, sok ngatur, tidak toleran.

Apalagi kalau ada da’i yang omongannya tidak cocok dengan pemikiran saya. Langsung hati saya menghakimi seenaknya.

Kelompok-kelompok agama pun tidak lepas dari ketidaksukaan saya. Salafy salah, NU salah, Muhammadiyah salah, HTI salah, jamaah tabligh salah, dan lain-lain pokoknya semuanya salah.

Hingga suatu hari seorang teman ‘mengenalkan’ saya pada pengajian seorang ustadz. Apa yang disampaikan ustadz tersebut bagus sekali. Begitu mengena dan membekas di benak saya.

“Ini kan ustadz dari kelompok yang sering saya ejek. Ternyata nggak seburuk dugaan saya selama ini, ya. Menarik nih, coba ah ikutin kajiannya yang lain.” Begitu kira-kira pikiran saya waktu itu.

Kajian kedua ustadz tersebut yang saya ikuti meruntuhkan air mata. Benar-benar banjir tangis.

Setelah itu saya kuntit terus kajiannya. Ternyata banyak yang diajarkannya. Ada sirah nabawiyah, kisah sahabat, kitab-kitab hadits, sejarah, dan kitab-kitab ulama terdahulu.

Satu demi satu hal-hal memalukan dalam Islam terjawab. Kesalahan saya selama ini tidak mau mencari tahu, belajar, bertanya pada ahlinya.

Setelah akhirnya tahu betapa adil dan indahnya Islam, saya sangat menyesal pernah berprasangka buruk pada agama sendiri. Prasangka buruk tanpa disertai konfirmasi, fatal sekali.

Pikiran saya beralih pada ustadz-ustadz, kyai-kyai, kelompok-kelompok Islam lainnya yang saya pandang negatif. Saya sadar telah menghakimi mereka tanpa berkenalan dan bergaul lebih dahulu.

Mulailah saya mengenali mereka dengan cara nimbrung di majelis-majelis ilmu mereka. Sedapat yang saya bisa, ada yang di masjid, ada yang dari buku, mp3, dan video.

Hasilnya sama saja, ternyata prasangka sayalah yang terlalu buruk. Selama pengenalan itu saya malah dapat banyak ilmu.

Kini celaan saya telah berganti dengan rasa hormat dan rasa persaudaraan. Tentu ada hal-hal minor yang tidak mencocoki hati saya, mungkin karena pemahaman saya yang masih kurang.

Untuk itu saya goreskan sebuah kenyataan di dalam hati, bahwa kelebihan mereka jauh lebih banyak daripada kekurangannya. Namanya juga manusia.

Sedangkan Islam bagi saya adalah sesempurna-sempurnanya ajaran dan pegangan hidup. Semakin saya mengakrabinya semakin saya terpesona.

LEAVE A REPLY