Jangan Mau Dibodohi Pakai Keris

0
2154

Maaf ya soal judulnya, saya sengaja untuk mengenang demo Bela Islam 4/11/2016 lalu yang berjalan dengan damai dan santun.

Keris di Indonesia lebih dikenal sebagai pusaka daripada senjata. Sering dikabarkan keris itu mempunyai bermacam tuah. Dari untuk ketentraman rumah tangga, wibawa, gampang jodoh, hingga meningkatkan kemampuan bertempur seseorang.

Sekilas pengetahuan saya keris (khususnya di masyarakat Jawa) itu multifungsi. Ia adalah senjata, perhiasan, pusaka, harta, karya seni, alat upacara, dan simbol.

Saya menyukai keris, sebagai senjata, bukan sebagai pusaka. Sehingga saya tidak terlalu memperhatikan cerita-cerita mistis tentang keris.

Bagi saya cerita seperti itu tidak ada artinya, toh saya tidak pernah melihat buktinya. Bukannya negeri kita sarat dengan mitos?

Kalaupun nanti saya jumpai sendiri buktinya tetap tidak mengubah pandangan saya. Bahwa kengerian keris itu tidak terletak pada tuahnya… melainkan racunnya.

Keris adalah side arm atau senjata pelengkap/cadangan/sampingan. Ia dihunus jika senjata utama seperti pedang, tombak, trisula, parang, dll sudah terlepas dari tangan. Keris dimainkan dengan cara menusuk, menggores, dan mengiris juga kadangkala dijadikan sebagai senjata lempar jika terpaksa.

Perawatan keris dilakukan secara berkala yang istilahnya dimandikan. Keris dicuci, dibersihkan, lalu diberi warangan (racun) pada bilahnya. Seringkali racun yang digunakan keras sekali.

Disitulah letak bahayanya keris. Dalam pertarungan orang yang bersenjata keris tidak perlu misalnya menikam berkali-kali tubuh lawan untuk mengalahkannya. Cukup segores kecil dan racun yang kuat, dengan ijin Allah, akan mengakhiri hidup lawan.

Jika keris bisa digunakan sebagi senjata, lalu kenapa ada keris yang lembek? Yang bisa ditekuk dan dipatahkan pakai tangan?

Baiklah, saya coba jelaskan dari sudut pandang saya, ya.

Pertama, mungkin keris itu dibuat dengan fungsi utama bukan sebagai senjata. Misalnya untuk alat upacara saja. Maka bahannya bukan dari bahan pilihan.

Kedua, mungkin itu keris tua yang sudah uzur dimakan waktu.

Ketiga, mungkin itu keris kelas murah. Bisa saja pemesannya dulu bukan orang berada sehingga tidak sanggup membayar keris pilihan.

Jangankan keris, senjata lain juga ada yang lembek. Kerambit milik saya contohnya, saya adu dengan ubin jadi melengkung. Tapi tetap memadai sebagai senjata.

Bukankah keris dan kerambit didesain untuk menembus kulit daging manusia? Ia memang tidak didesain untuk menangkis senjata berat. Beda dengan kapak, linggis, dan palu yang didesain untuk berbenturan dengan benda keras.

Bermodal sedikit penjelasan di atas saya mengajak para pecinta keris. Yuk kita ubah pandangan kita, perlakukan keris sebagai senjata saja atau benda arkeologis jika memang punya nilai sejarah.

Sebagai catatan, saya bukan ahli keris, pengetahuan saya tentangnya sedikit. Karena itu jika ada yang ingin memberi masukan pada tulisan saya, silakan.

SHARE
Previous articleDulu Saya Malu Beragama Islam

LEAVE A REPLY