Jangan Meremehkan Pekerjaan Orang Lain

0
3056

Menganggap remeh pekerjaan orang lain biasanya terjadi karena pekerjaan tersebut dipandang hina atau berpenghasilan kecil. Juga karena terlenanya diri dengan kemudahan dan keunggulan yang Allah karuniakan sehingga timbul kesombongan.

Saya rasa hal itu sering terjadi di sekitar kita, bahkan saya alami sendiri beberapa kali.

Seorang teman – semoga Allah menjaganya – pernah bercerita dia akan mendapat pekerjaan baru yang besar gajinya, dan menyuruh saya untuk ikut bekerja bersama dia. Saya menolak dengan alasan ingin fokus pada pekerjaan yang sudah saya jalani cukup lama.

“Kerjamu itu kan tidak ada hasilnya,” katanya, mengomentari usaha yang saya rintis dan jalani bertahun-tahun.

Seorang teman yang lain – semoga Allah menjaga ia dan keluarganya – memaksa saya berkata bahwa 500 ribu rupiah per minggu sudah cukup membuat saya senang, dan kebutuhan rumah tangga terpenuhi dengan baik.

Dia berkomentar,”Kirain 5 juta seminggu!” Berderet-deret kalimatnya yang lain memamerkan kekayannya sekarang dan menyayangkan kenapa saya tidak sekaya dia.

Tak lama kemudian saya dapat kabar, teman yang pertama itu mulai bekerja di perusahaan yang mampu memberinya gaji besar.

Namun sejak awal dia katanya selalu membuat kesalahan. Sehingga sebentar kemudian dia dipecat.

Kabar tentang teman kedua juga saya terima, dia mempunyai beberapa kekurangan dalam hidup dan rumah tangganya. Tapi saya tak mau menceritakannya.

Ada hal-hal penting yang saya pelajari.

Saat Allah memberi kemudahan, jangan menjadi sombong. Sangat mudah bagiNya mencabut kembali kemudahan itu. Sedikit saja kemudahanNya dicabut bisa menimbulkan kesusahan yang besar bagi kita.

Kita sering terlena dengan besarnya penghasilan (uang). Saat terpandang oleh kita orang yang pekerjaannya lebih remeh dari kita, timbul sangkaan pasti penghasilannya sekecil dan seremeh pekerjannya.

Padahal pekerjaan itu salah satu pintu rezeki, dan besar kecilnya rezeki tidak ditentukan oleh besar kecilnya gaji.

Saya pernah bekerja pada orang yang rumahnya mewah sekali dan hartanya banyak. Penghasilannya per bulan tidak tanggung-tanggung.

Tapi keluarganya jarang shalat, makannya tidak lebih mewah dari tukang becak karena pelitnya. Anak-anaknya nakal dan sering berganti karyawan karena jarang yang betah.

Semoga Allah karuniai mereka hidayah.

Sedangkan kenalan saya yang kerja seadanya dan kemana-mana sarungan cuma naik sepeda ontel saya lihat besar sekali rezekinya. Rumahnya jarang sepi sahabat yang bertamu. Kalau saya berkunjung, selalu saja ada makanan berlimpah yang disuguhkan.

Keluarganya berwajah cerah-cerah dan ramah penuh senyum. Kalau punya hajat dan tertimpa kesusahan jalan keluarnya datang dengan cepat. Shalatnya pun rutin berjamaah.

Semoga Allah menambah rezekinya dan keluarganya.

Jadi bagusnya pekerjaan dan besarnya gaji itu tidak menjamin besarnya rezeki. Tidak ada gunanya kita bangga-banggakan.

Kita syukuri saja, Alhamdulillah punya pekerjaan sehingga kehormatan terjaga. Itulah salah satu fungsi bekerja, menjaga kehormatan.

Jadi orang yang bekerja halal itu orang yang terhormat dan patut dihormati.

Lagipula seburuk-buruk pekerjaan menurut kita, itu adalah karunia Allah. Apa berani kita meremehkan karuniaNya?

LEAVE A REPLY