Surau Kampung Ideal

0
3129

Waktu kecil saya suka shalat jamaah di surau kampung (di kampung saya disebut langgar),┬áterutama magrib dan isya’.

Saya sering jadi muadzin yang saya jalani dengan terpaksa. Ada anak-anak yang lebih besar dari saya, kenapa saya yang adzan? Waktu adzan pun saya sering ditertawai jamaah lain karena bacaan saya suka salah.

Surau kampung saya adalah bangunan kelas di sebuah SD yang tidak terpakai. Tidak mempunyai toa. Tempat wudhunya menumpang sumur pompa di belakang rumah penjaga sekolah, kalau sedang hujan teritisan juga sering dipakai berwudhu.

Asyiknya, SD itu mempunyai halaman yang luas. Saya sering berangkat jauh sebelum waktu magrib tiba hanya untuk bermain bersama anak-anak lain sebelum shalat.

Hingga berpindah ke tanah dan bangunan wakaf, saya masih setia berjamaah di surau. Di tempat yang baru ini saya tidak lagi disuruh jadi muadzin. Karena sudah pakai microphone dan toa, kalau saya yang adzan tentu ngisin-isini (memalukan).

Di surau itulah saya mulai belajar membaca Al-Qur’an. Menggunakan kitab turutan (metode sorongan/Al-Baghdadiyah), saya diajari oleh Pak Yahya dan Mas Sugeng. Semoga Allah menjaga mereka.

Beranjak besar saya tidak lagi shalat jamaah di surau. Salah satu alasannya karena bagi saya surau kampung itu bukan surau yang ideal.

Karena ingin belajar silat, bayangan saya surau yang ideal itu ya yang setelah isya’ ustadznya mengajar silat. Ustadz juga hanya mengajar silat pada anak-anak yang mau ngaji.

Apalagi di depan surau kampung saya ada halaman yang luas. Cukup untuk berlatih beberapa anak.

Saya membayangkan ada 30 jurus yang diajarkan. Setiap selesai ngaji 1 juz diajari 1 jurus. Bacaan saya masih tertatih-tatih sehingga bisa menyelesaikan 1 juz saja sudah luar biasa bagi saya.

Saya kesal karena Pak Yahya tidak bisa silat. Padahal saya inginnya ideal, bisa ngaji dan bisa silat.

Jadilah saya ngambek tidak mau lagi shalat di surau. Meski orang tua saya berkali-kali menyuruh saya berangkat ke surau, saya bergeming.

Sepertinya novel serial Pulung karya Bung Smas ikut mempengaruhi pemikiran saya waktu itu :). Karena Pulung diceritakan jago bersilat. Dia belajar mengaji dan silat pada Wak Solikun, setiap selesai 1 juz Pulung diajari 1 jurus silat.

Sayangnya, ngambek saya kebablasan. Hingga saya pindah tempat tinggal saya tak pernah lagi shalat di surau itu.

LEAVE A REPLY